Al-Quran dan Sains

Ditulis oleh seokacang, dipublikasi pada 1 September 2022 dalam kategori Ruang Guru

Al-Quran merupakan kitab suci yg terbuka utk dibaca oleh semua kalangan, semua usia. Kitab-Kitab Suci agama lain sebaliknya tertutup. Misalnya di India yang bisa membaca kitab suci hanya orang-orang tertentu, agamawan. Yahudi, Nasrani juga sama kitab suci hanya boleh disentuh oleh raja, dan agamawan. Sementara orang-orang biasa, rakyat, tidak diperbolehkan membaca. Padahal saat itu kitab suci merupakan sumber yang langka bagi pembentukan tatanan kehidupan umat manusia. Rakyat tidak punya pegangan. Rakyat menata kehidupan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan budaya turun temurun generasi sebelumnya. Tidak ada peradaban. Masa yang demikian ini sering disebut sebagai Zaman Kegelapan.

Lalu Islam lahir, Muhammad membawa wahyu, Al-Quran. Mengutip Cak Nur (Nurcholish Madjid) pada masa Islam ini mulai terjadi internasionalisasi ilmu pengtahuaan. Pada masa Umayyah ilmu pengetahuan tumbuh untuk mempelajari Al-Quran, maka ada pelajaran ilmu alat, tafsir, hadist, ilmu-ilmu agama (ilmu2 syar’iyyat). Baru pada masa Abbasiyah ilmu-ilmu pengetahuan lainnya lahir dan berkembang, astronomi, geografi, matematika, kedokteran, sosiologi, filsafat dsb. Lahir ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Kholdun, Alfarabi, Ibnu Sina, Al Khawarizm penemu Al-Jabar, Al-Ghozali, Ibnu Rusy, dsb (Ilmu Aqliyyah). Inilah Zaman Keemasan (Golden Age) dalam dunia Islam. Pada saat itu Spanyol menjadi pusat ilmu pengetahuan yang sohor dan bergengsi. Banyak pelajar muslim dan non muslim belajar disini, dan bangga. Bahkan Paus Silvestre belajar di perguruan tinggi Islam di Andalusia ini. Sementara di Barat baru masuk Abad Pertengahan transisi dari masa kegelapan tadi.

Islam di Abad Keemasan berstatus sebagai produsen dalam pengajaran-pembelajaran ilmu pengetahuan, bukan konsumen. Apabila dibandingkan dengan masa kini sangat terbalik. Mengapa, karena pioneer-pioneer Muslim dalam bidang keilmuan bersikap inklusif, bukan eksklusif.

Menilik kedalam Al-Quran dan sains, satu ketika Pak BJ Habibi (Presiden Ketiga Republik Indonesia) bercerita, bahwa beliau sangat menyukai surat Yasin ayat 80 yang berbunyi “Alladzina jaalalakum minas sajaril ahdhori naaran faidza antum minhu tuqiduun (yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu)”. Ayat ini mengilustrasikan bahwa dibawah hijaunya pohon itu tersimpan energi yang mengasilkan api. Dalam ilmu pengetahuan energi itu batu bara, dimana batu bara ini berasal dr tumbuhan yang sudah jadi fosil karena tertimbun ribuan-jutaan tahun. Kisah lain dalam Al-Quran pengetahuan tentang tata surya bagaimana matahari, bulan dan bumi berinteraksi. Itu satu contoh. Sementara sebelum Islam masih belum banyak mengenal sains, contohnya, dulu sebelum ditemukan ilmu farmasi dan kedokteran, orang sakit kepala atau pusing itu dipukul menggunakan alat mirip palu. Cerita ini bener adanya, saya pernah membaca kitabnya lengkap dengan gambarnya. Kandungan ilmu pengetahuan dalam Al-Quran ini memberi pesan bahwa kita harus senantiasa mempelajari, memahami dan memanfaatkan untuk kehidupan manusia di bumi ini. Tidak hanya mempelajari.

Sementara Yahudi tidak demikian, khususnya kaum Yahudi konservatif. Mereka punya doktrin bahwa mereka bangsa terpilih, selain Yahudi ya tidak terpilih. Dengan anggapan itu membuat mereka sewenang-wenang, tidak mau diatur bahkan dalam kehidupan global. Apa saja dalam dunia ini adalah untuk mereka. Kita semua ini seperti budak, bangsa kelas dua di mata Yahudi. Bahkan aturan main global yang disepakati PBB mereka langgar, Yahudi konservatif sulit diatur dalam tata kehidupan bersama. Dalam Al-Quran memang ada ayat yang menyatakan bahwa kaum Israel itu bangsa terpilih. Namun dalam tafsir perkataan Tuhan itu menunjuk pada dahulu kala, nenek moyang bangsa Israel. Tentu saja sebelum hadirnya Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Klaim “bangsa terpilih” dari Yahudi konservatif ini membuat mereka eksklusif.

Kembali pada tema, bahwa Al-Quran merupakan kitab suci yang egaliter, terbuka, kaya kandungan sains dan inklusif untuk semua suku, semua bangsa, untuk alam semesta. Oleh karena itu kita mesti terus memperlajari, memahami, dan memanfaatkan untuk kemaslahatan manusia dan alam semesta. (LR)