“Kartini dan Kami: Menyulam Sejarah, Menyalakan Masa Depan”

Ditulis oleh Lutfi Rahman, dipublikasi pada 28 April 2026 dalam kategori Ruang Guru

Pada 11 April lalu, keluarga besar SBK-YPBK berziarah ke makam Kartini. Bukan rencana yang tiba-tiba. Permintaan Pak Juwahab dalam rapat Yayasan sebulan sebelumnya menggugah ingatan kami: sudah 16 tahun rasanya kita belum sowan ke simbah Kartini. Semua yang hadir mengangguk sepakat. Dari niat yang tulus itu, panitia meramu perjalanan menjadi ziarah ke makam para wali lainnya.

Lantas, adakah benang merah yang mengaitkan Kartini dengan YPBK-SBK? Pertanyaan ini sering mampir, bahkan ada yang menyangka kita sekadar ghosob memakai nama Kartini. Karena itu, biarlah kita uraikan tautannya.

Jika kita menelisik ke belakang, sekitar pertengahan 2008-2009, tibalah saat menentukan nama untuk SD yang hendak didirikan. Bapak-bapak berkumpul di kediaman H. Abdul Wahid Badri. “Monggo, kita beri nama apa sekolah ini?” pancing Mbah Noor. Di aula belakang rumah yang hangat itulah nama Kartini terucap.

Ya, Kartini. Nama itu terasa pas karena beberapa alasan. Pertama, pandangan dan visi sosialnya yang merentang antara nasionalisme dan kosmopolitanisme, serta sikapnya yang jauh melampaui zamannya. Sekolah yang ingin kami dirikan ini hendak menapak tilas warisan pikiran itu. Kedua, kita berpijak di Jepara — tanah kelahiran Kartini, tempat ia menyulut percik pembaruan. Mengabadikannya dalam wujud lembaga pendidikan terasa seperti meneruskan nyala obornya. Ketiga, dari pengamatan kami, belum ada satu pun lembaga pendidikan di Jepara yang menyandang nama Kartini. Yang ada hanya di Rembang, di sisi timur alun-alun, dekat Museum Kartini.

Mbah Noor terdiam sejenak, lalu berkisah. Sejak kecil ia sudah terpikat pada Kartini — pada kiprahnya dalam dunia pendidikan, pada caranya mencerdaskan putra-putri Nusantara. Bude Mardliyyah, sepupu ibunda Mbah Noor dari jalur ibu, adalah sepupu Kartini. Sementara ayah Bude Mardliyyah dan ayah Kartini adalah kakak beradik. Sejak kecil, telinga Mbah Noor akrab dengan kisah-kisah tentang Kartini. Kebetulan pula beliau menimba ilmu di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab IAIN Sukijo Yogyakarta. Sepulang dari Saudi Arabia, keinginan mendirikan sekolah dengan nama Kartini semakin menguat. Apalagi Kartini adalah murid Mbah Kiai Sholeh Darat, yang tak lain adalah kakak beradik dengan nenek dari bapaknya Mbah Noor, KH. Achmad Fauzan.

Itulah kisah personal Mbah Noor. Jelas sudah: ada talitemali historis dan genealogis antara Kartini dengan leluhur Ketua Pembina YPBK. Kisah ini, kalau tak salah, pernah beliau sampaikan saat Harlah tahun lalu.

Namun gagasan nama Kartini tak langsung disambut bulat. Ada yang mengusulkan “Bumi Kartini”. Bukan Kartini dengan seluruh eksistensinya, melainkan “Bumi” — menunjuk tanah kelahirannya. Kata itu menyimpan filosofinya sendiri: kesabaran, keteguhan, ketangguhan, kesuburan, kerendahhatian, keseimbangan, welas asih, dan keikhlasan. Bumi adalah Ibu. Waktu pertama kali mendengar “Bumi Kartini”, ingatanku langsung melayang ke Stadion Gelora Bumi Kartini di sebelah rumah. Di sana semangat berkompetisi dan rasa mencintai Jepara digelorakan. Maka biarlah kali ini kita hadirkan Sekolah Bumi Kartini sebagai ruang untuk mewujudkan mimpi generasi baru Jepara dan Indonesia lewat pendidikan yang bermutu.

Malam itu, nama Bumi Kartini terasa lebih “mendarat” di tengah rapat para pendiri. Ada nuansa berpijak, berakar, berasal. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri. Meski begitu, nama Kartini tetap menjadi patri ketika kami menentukan siapa yang akan menakhodai SD baru ini. Sepakat: alangkah baik jika dipimpin sosok perempuan. Seorang Ibu. Tapi siapa? Kebingungan menggantung, sampai nama Mayadina terucap memecah hening. “Setuju!” Saat itu Mayadina dikenal sebagai anak muda santri yang lantang mengusung kritisisme terhadap kebijakan publik. Namanya cukup dikenal di kalangan yang melek media.

Lalu waktu berjalan. Pada kesempatan lain, Kartini telah meresap menjadi bagian dari jiwa para pendiri SBK. Mereka rela memilih 21 April sebagai hari lahir Yayasan Pendidikan Bumi Kartini, walau embrio yayasan sudah merangkak beberapa bulan sebelumnya. Berharap limpahan berkah dari weton simbah Kartini. “Wes paske wae tanggal selikur,” kata salah satu sesepuh.

Maka ditetapkanlah hari lahir YPBK pada Hari Kartini, 21 April 2010, bertepatan dengan 6 Jumadilawal 1943 tahun Dal, weton Rabu Wage.

Dalam falsafah weton Jawa, orang yang lahir pada Rabu Wage memiliki neptu 11: Rabu 7, Wage 4. Weton ini dinaungi watak Sumur Sinaba dan Bumi Kapetak. Sumur Sinaba — wadah ilmu — adalah ia yang menjadi sumur, sumber air bagi sekelilingnya. Artinya, ia dipandang berwawasan luas, bijaksana, tempat orang mencari perlindungan atau nasihat. Ia berbakat alami sebagai pembimbing, sebagai guru.

Rabu Wage juga berwatak Bumi Kapetak: sabar dan ulet. Seperti tanah, ia pribadi yang lapang dada, pekerja keras, pemaaf, tak mudah menyimpan dendam meski berulang kali disakiti.

Karakter positif Rabu Wage: penurut dan setia, sederhana, cermat. Secara ekonomi, ia cenderung stabil karena hemat dan pandai mengelola keuangan. Waah, seperti ada bisikan dari langit. Filosofi weton dgn nalar keKartinian kok ya pas, gathuk mathuk. Rasanya penetapan hari lahir ini seperti reinkarnasi Kartini dalam wujud lembaga pendidikan.

Sementara dari sisi legal, memang tak ada pijakan formal yang mengikat nama Bumi Kartini. Tak ada satu pun peraturan yang menetapkan Bumi Kartini sebagai nama lain dari Jepara, atau yang mengukuhkan Jepara sebagai Bumi Kartini. Tak ada pula hak cipta yang melekat. Sebutan itu lebih sering singgah di ruang promosi pariwisata. Ada Perda yang menetapkan nama RSU Kartini, ada yang meresmikan Stadion Gelora Bumi Kartini, ada pula yang mengesahkan Radio Kartini. Artinya, Sekolah Bumi Kartini berdiri di posisi yang sama dengan yang lain — sah secara hukum, karena telah mengantongi izin operasional dari Pemerintah Kabupaten Jepara.

Sampai di sini menjadi terang: secara ideologis apalagi biologis, Sekolah Bumi Kartini dan YPBK memang tidak berdarah langsung dengan Kartini. Relasi Kartini dengan SBK/YPBK seperti Lego atau bricks — menggunakan sistem pengunci untuk membangun bangunan, kendaraan, atau karakter. Kita telah mengunci dengan nama beliau, dengan tanggal lahir beliau. Dan sebentar lagi kita akan mengunci relasi ini dengan menyemat nama kecilnya, Trinil, menjadi sebuah Cafe Literasi.

Tanpa patung Kartini, tanpa diskusi mendalam tentang eksistensinya, diam-diam selama ini kita ternyata ingin mewarisi dan melanjutkan mimpi-mimpinya — tentang kebebasan berpikir, kesetaraan, keadilan sosial, emansipasi, dan dunia literasi yang menggelora.

Justru karena mimpi itulah, rasanya tak lengkap bila tak sowan langsung ke beliau di Rembang. Ada ganjalan yang tak bisa dijelaskan jika SBK berjalan tanpa pernah menziarahi pusaranya. Dan ketika akhirnya kami duduk bersila di dekatnya, di tanah tempat ia berbaring, ada rasa yang sukar dilukiskan: seolah menjadi bagian darinya. Semoga seterusnya kita semua menjadi bagian dari mimpi-mimpi besarnya.

Selamat Hari Lahir SBK-YPBK ke-16!
Selamat Hari Kartini!

-LR-