RA Kartini

Diskusi Kartini dan Tantangan Pendidikan Era Modern

Ditulis oleh admin, dipublikasi pada 29 April 2019 dalam kategori Ruang Guru

RA Kartini menjadi sosok yang sangat menginspirasi bagi banyak orang hingga dikenal di kancah internasional. RA Kartini menjadi icon penting terutama di Kabupaten Jepara, kecintaan padanya banyak gedung-gedung, instansi bahka perusahaan menggunakan nama Kartini sebagai simbol identitasnya. Begitu pula dengan Sekolah Bumi Kartini yang menggunakan nama kartini sebagai simbol identitasnya dengan harapan sekolah memiliki spirit dan pikiran seperti RA Kartini. Maka dari itu, Sekolah Bumi Kartini dalam agenda rutin akhir bulan memilih tema “Kartini, Budaya Literasi dan Tantangan Pendidikan Era Industri 4.0” sebagai bahan diskusi yang dilaksanakan di musholla sekolah kemarin (27/04/2019).

Dalam kegiatan tersebut, pengurus Yayasan Pendidikan Bumi Kartini (YPBK) mengharapkan seluruh elemen sekolah mengerti dan memahami mengapa sekolah menggunakan simbol Kartini sebagai nama sekolah dengan menghadirkan Bapak Muhammad Nuh Thabrani sebagai narasumber. Dalam membedah dari sisi sejarahnya, banyak sisi yang tidak di ketahui oleh banyak orang termasuk bagaimana sekarang kehidupan dari keturunan-keturunanya. Kartini yang terlahir pada 21 April 1879 dari rahim ibunya Ngasirah sejak umur ke 12 tahun sudah dalam masa pingitan, hal itu tidak membuat kepekaan sosial kartini meluntur, Kartini berjuang menuntut ilmu demi membebaskan dari tradisi yang mengakar di Pendopo Kabupaten. Hal ini terasa kontradiktif dengan apa yang telah diceritakan oleh korespondenya dibelahan dunia terutama Belanda. Pak Tabrani menjelaskan, bahwa kartini aktif menulis surat pada usia 16-25 tahun yang menggugat terhadap isu persoalan penindasan dan menuntut kesetaraan “Hak Dasar” bagi kaum perempuan. Kartini mendirikan sekolah “Sekolah Teras” sebagai bentuk mahar pinangan dari Bupati Rembang sebagai awal perjuangan Kartini untuk kesetaraan dan membebaskan dari penindasan.

Nama harum kartini tidak membawa dampak positif bagi kesejahteraan keturunanya, himpitan ekonomi terasing dalam sunyi diantara gemerlapnya dunia emansipasi yang diperjuangkan oleh moyangnya. Kini keturunanya tinggal jauh meninggalkan tanah kelahiran Kartini yang sederhana dan penuh keprihatinan. Perjuangan dan pengorbanan Kartini demi emansipasi “kesetaran” kaum perempuan jauh berbalik dari apa yang dijalani oleh keturunanya.

Banyak sudut pandang orang mengartikan emansipasi wanita yang diperjuangkan kartini, apakah emansipasi diartikan kesetaraan antara kaum laki-laki dan kamu perempuan ? atau emansipasi yang diwujudkan demi pembebasan dari penindasan tradisi yang mengutamakan kasta ? Pak Thabroni menegaskan bahwa emansipasi adalah bukan menuntut kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan, akan tetapi kartini berjuang untuk peningkatan pendidikan dan drajad perempuan. Sejatinya kodrat seorag perempuan tetap mematuhi dan taat kepada imam atau suaminya (kepala keluarga).

Dengan begitu, pada zaman sekarang patut mensyukuri berkat perjuangan dan kegigihan dari pahlawan perempuan RA Kartini kini kita semua tidak lagi tertindas akan pendidikan dan kesetaraan derajad, maka perlu kita mencontoh dan mengambil hikmah dari pikiran-pikiran dan spirit yang dimiliki seorang RA Kartini.